Sunday, April 24, 2016

Di Desa Sudah Ada Ekonomi Berbagi?




Baru-baru ini sedang ramai tentang sistem atau aplikasi-aplikasi berbasis teknologi informasi semacam Uber, GrabBike, Gojek, dan lain sejenisnya. Dengan sentuhan teknologi informasi, adanya model bisnis aplikasi tersebut memungkinkan kemudahan bagi beberapa pihak, serta mampu memanfaatkan sumber daya-sumber daya secara efisien, untuk kepentingan  bersama. Menurut beberapa pakar ekonomi, hal-hal tersebut adalah pola dari ekonomi berbagi, atau yang disebut sharing economy. Ekonomi berbagi sendiri adalah konsep bisnis yang memberikan akses terhadap sumberdaya yang dimiliki perorangan, organisasi, atau perusahaan untuk dimanfaatkan atau dikonsumsi dengan orang lain. Manfaat ekonomi berbagi sendiri diantaranya adalah menurunkan dampak lingkungan, karena konsumsi yang berlebihan, menghebat biaya dengan pemanfaatan barang atau sumber daya yang ada.

Dalam keseharian, di sebuah desa kecil tempat tinggal saya di Lamongan, sharing economy atau ekonomi berbagi diakui atau tidak, secara sederhana bahkan sudah terlebih dulu dilakukan oleh sebagian orang-orang di desa kami sejak dulu hingga sebagian sekarang masih ada, misalnya yang dilakukan oleh Pak Teguh dan Cak Munawar. Cak Munawar adalah tetangga sekaligus kerabat jauh dari Pak Teguh. Dalam hal ini, Pak Teguh mempunyai beberapa petak sawah yang tak mampu jika beliau kerjakan sendiri, oleh sebab itu Pak Teguh memberikan penawaran kepada Cak Munawar, agar salah satu petak sawahnya dikerjakan olehnya. Cak Munawar pun menerima penawaran tersebut, mengingat Cak Munawar sendiri tidak punya petak sawah yang bisa dikerjakannya diselah-selah pekerjaannya sebagai kuli bangunan –yang itu tidak setiap hari juga ada pekerjaan.

“Yah, kalau mau sampean garap lah cak, sebagian sawah saya yang di selatannya tegalan. Nanti seperti biasa saja hasil panen, barangkali bisa dibagi…” Pungkas Pak Teguh. Tentu saja Cak Munawar mengiyakan dengan senang hati. Dengan persyaratan yang telah disepakati diawal, yang kebanyakan adalah berbagi hasil panen, dan atau ditambah yang lainnya, misalnya biaya pupuk dan lain, dan sebagainya, juga telah disepakati didepan siapa yang menanggung –si empunya tanah atau si penggarap sawah. Hanya begitu saja, tanpa ada hitam diatas putih, apalagi ditambah materai, tidak perlu, hanya sebatas saling percaya saja, cukup. Dalam hal ini mereka berdua telah berbagi dan saling bertukar sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam kancah kegiatan ekonomi di dalam masyarakat kecil.

Dan masih banyak lagi, contoh lainnya adalah ketika musim panen disawah, beberapa orang yang tidak mampu atau tidak mau mengeluarkan uang untuk biaya buruh, mereka akan mengundang tetangga atau saudara untuk membantu panen di sawah mereka, dan dikemudian hari gantian mereka yang membantu di panen di tetangga atau saudara tersebut. Mereka saling berbagi tenaga atau sumber daya manusia. Sebetulnya masih banyak contoh lainnya, tidak hanya dalam ranah pertanian, tapi juga dalam hal peternakan. Biasanya seorang yang sedang kelebihan uang akan membelikan atau bisa disebut menginvestasikan uangnya untuk membeli sapi, kemudian karena tidak punya waktu dan juga skill atau kemampuan dalam merawat sapi tersebut, akhirnya dipercayakan kepada tetangga yang sudah terbiasa merawat sapi tersebut, dalam 2 sampai 3 tahun kemudian, mereka akan berbagi hasil untung penjualan dari sapi tersebut. Iyah, begitu saja. Sesederhana itu. entah, hal-hal sederhana yang mendasar seperti itu layak disebut ekonomi berbagi atau tidak. Namun, mereka telah melakukan konsep ekonomi berbagi itu sendiri, yaitu saling membantu atau berbagi dan atau memanfaatkan sumberdaya yang ada.

Dalam pengertian yang lebih luas, menurut Benita Matofska dari Organisasi The People We Share, seperti yang saya kutip dari tulisan Jalal di geotimes.co.id. Bahwa ekonomi berbagi adalah sebuah ekosistem sosial-ekonomi yang dibangun disekitar, untuk berbagi sumberdaya manusia dan fisik, termasuk dalam penciptaan, produksi, distribusi, perdagangan dan konsumsi oleh orang-orang dan organisasi yang berbeda. Dimana dalam prakteknya terdapat visi berkelanjutan, yakni pemanfaatan sumberdaya sekarang untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi selanjutnya.

Sehingga ekonomi berbagi adalah gambaran sebuah bisnis atau kegiatan ekonomi yang mampu memanfaatkan peluang dengan sumberdaya yang ada, tentu saja dibarengi dengan kemajuan teknologi sehingga mampu memberikan kemudahan akses. Dan yang paling penting dari ekonomi berbagi adalah kemauan untuk berbagi sumberdaya, untuk dipakai semua orang dalam kegiatan sosio-ekonomi.

Dengan kondisi bonus demografi seperti ini, dimana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih banyak dari penduduk usia non-produktif. Pemanfaatan industri kreatif yang mengedepankan konsep ekonomi berbagi akan memberikan peran maksimal dalam kegiatan ekonomi. Sesederhana yang dilakukan Pak Teguh, untuk berbagi sumberdaya dengan Cak Munawar, namum dalam sebuah kegiatan ekonomi yang tidak sederhana lagi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan inovasi-inovasi baru. Barangkali, memanfaatkan konsep ekonomi berbagi dalam industri kreatif akan besar manfaatnya jika dilakukan dengan baik, dengan niatan berbagi sumberdaya yang ada, untuk diapakai secara bersama-sama, dengan keuntungan bersama. Tanpa ada suatu bentuk monopoli ekonomi dari satu dua pihak saja.


0 komentar:

Post a comment