Saturday, November 28, 2015

Kerja itu Move On




Entahlah. Saya merasa bingung mau menulis apa. Jika saya sedang duduk bertiga dengan dua sahabat saya, sebut saja Alfan dan Tono. Pasti ujung-ujungnya masalah perempuan sudah menjadi bahasan kami bertiga. Haha. Dua pria tanggung menyedihkan itu mahasiswa semester akhir yang menurut saya sama saja –galau urusan cinta.

Buktinya, mana ada seorang -jomblo-menjaga-diri- akut semacam Alfan dengan percaya diri menyembunyikan perasaan cinta dengan begitu bahagianya, perlu diulang : dengan begitu bahagia. Padahal kan, cinta diam-diam itu akan menghadapi penolakan atau penerimaan secara diam-diam pula. Lah, apa enak yang kayak begitu? Kan lebih baik tegaskan saja : Ungkapkan atau Lupakan! Haha. Sementara akhi Tono kurang galau apa coba, mahasiswa yang topik skripsi saja belum punya tapi sudah sibuk mengikuti pelatihan pra-nikah, belajar buku-buku pernikahan. Seperti itu anda anggap bukan galau, haha. Itu sudah benar-benar galau urusan cinta, hanya saja penyalurannya agak positif : belajar dulu –eksekusinya belakangan.

Sayangnya saya lagi sendirian di kamar, tidak sedang bersama mereka. Sehingga saya tidak akan membahas urusan cinta dan perempuan. saya akan membahas hal yang lebih urgen keren, urusan : Pekerjaan, misalnya. Haha. Tapi saya tidak sedang ikut-ikutan ramai memperbincangkan perdebatan tentang kaum buruh yang meminta kenaikan gaji dan kelas menengah yang nyinyir menyindir atau sebagian lain nyolot mendukung. Pro dan kontra diantara mereka, mempunyai sudut pandang pembelaan tersendiri yang bagi saya sama-sama benarnya. Misalnya, kelas menengah yang nyinyir menyindir kaum buruh dengan argumen buruh kok pakai gadged mahal, motor ninja, liburan ke Bali, mbok ya sadar, hidup secukupnya saja. Kalau mau gaji naik ya tingkatkan produktivitasnya dong. Adapula yang nyolot mendukung bahwa tuntutan macam apa yang tidak realistis, upah buruh di Indonesia saja masih tergolong rendah di Asia Tenggara. Sementara produktivitas macam apa yang ributkan, lah kalian tidak merasakan sendiri secara langsung bagaimana rasanya berada di bagian produksi, berdiri berjam-jam, menghirup zat kimia (berbahaya) setiap hari, sudah gitu ditambah mau tidak mau ya kebanyakan meninggalkan waktu ibadah. Lah, mesin harus jalan terus jeh.

Haha, sudahlah. Riuh dan perdebatan semacam itu memang perlu supaya terus terjadi perbaikan dan keadilan dari semua pihak, baik kaum buruh,  maupun pengusaha. Namun, sejatinya janganlah lupa untuk bahagia bersyukur, demi apa saja yang ada di depan mata. Setidaknya sudah ada informasi diumumkan bahwa UMK tahun depan (2016) naik. Ah, habis itu juga banyak PHK lagi, haha. Udah begitu.

Sebagai freshgraduate, dan pekerja (kontrak) baru. Saya merasa memasuki dunia baru, yang kadangkala seringkali menyenangkan. Saya pernah diingatkan –bahkan terkadang sampai sekarang, bahwasanya yang perlu disiapkan pertama kali dalam bekerja adalah mental. Mental adalah hal pertama yang harus disiapkan, sementara saya sendiri kadang berpikir mental yang seperti apa. Kesiapan untuk bekerja –saya siap. Atau barangkali mental untuk dimarah-marahin dan disuruh-suruh, haha. Itu saya. Setidaknya banyak sekali mental yang harus disiapkan, mental bukan hanya sesederhana tersebut. Saya sendiri juga sedang belajar memperbaiki mental.

Sebagai contoh kecil. Barangkali mental kerja yang selalu merindukan akhir pekan atau pengen sesegera mungkin jam 5 sore, adalah bukan mental yang baik. Haha. Dan barangkali bekerja sebaik-baiknya tanpa memperdulikan gaji anda sekarang adalah mental yang baik, karena pada akhirnya gaji akan mengikuti kinerja, dan kalaupun tidak –ya tentu saja Tuhan yang melebihkan. “Bos, marahin saya jika kerja saya tidak baik. Tapi pliss jika kerja saya baik, ndak usah dipuji, naikin saja gaji, udah.”

“Masalahnya, kamu selalu saya marahin. Bib!” [SKIP]

Barangkali perlu diketahui, bahwa yang lebih penting adalah mental untuk melangkah maju, sepertinya begitu. Belajar banyak dari hal-hal baru yang sebelumnya sedikit atau bahkan belum pernah diketahui sama sekali.

Dengan melangkah maju kita sadar arti penting dari move on. Iya, sebut saja mental move on. Haha. Seperti halnya galaunya cinta oleh Alfan dan Tono, mereka mampu move on dengan cara, kemampuan dan pribadinya masing-masing. Bagaimana kegalauan Alfan soal cinta mampu dia sembunyikan yang kemudian bisa berwujud sikap move on, yang mana dia begitu percaya diri oleh cinta diam-diam, bahwa perasaan itu belum saatnya diungkapkan, menunggu sampai waktu yang tepat dalam kebersiapan yang baik adalah sikap laki-laki. Begitulah cara dia move on. Kepercayaan diri seorang Alfan ini bisa dilihat dari Poto Profil Facebooknya dimana sudah beberapa minggu dia menggunakan gambar dengan sebuah kalimat, “Kalau Tuhan menjodohkan kita, pacarmu bisa apa?”. Lihatlah kalimat itu, bisa jadi cinta diam-diam Alfan itu ditujukan kepada seorang yang sudah punya pacar –sekarang. Bisa saja. Itu sebuah kode. Alfan adalah seorang pengkode ideal. Haha. Dengan sikap move on yang seperti itu, saya yakin Alfan pada suatu saat nanti akan mendapatkan salah satu dari dua hal ini : Pendamping hidup atau Pelajaran hidup.

Sementara Tono, bagaimana dia move on dari kegalauan cinta dengan belajar, baginya tidak ada cara untuk menunda perasaan cinta yang datang. Cara satu-satunya adalah mempersiapkan, bukan tergesa memulai apalagi sengaja menunda. Bukan. Maka tidak heran jika Tono ikut pelatihan pra-nikah, membaca buku-buku pernikahan. Sungguh mulia galau sekali hatinya. Kalaupun dia tertarik dengan perempuan akhwat –halah sama saja, haha. Tono tidak menampakkannya, dia diam dan memasrahkannya pada Tuhan. Bukan main kode-kodean seperti Alfan. Haha.

Sementara saya yang sudah move on dalam arti yang sebenarnya, saya sadar lelaki yang terlalu dalam menyesali putus cinta adalah lelaki yang bodoh. Lelaki harus segera bangkit, kalau tidak ingin kalah dalam persaingan baru diluar sana. Haha.


“Dik, saya sudah move on, masa lalu saya sudah selesai. Boleh, saya memulai masa depan bersama adik?”







@Mojokerto, Hujan Pertama November 2015.

0 komentar:

Post a comment