Showing posts with label KESEHARIAN. Show all posts
Showing posts with label KESEHARIAN. Show all posts

Friday, December 25, 2015




“Dek, baper itu apa seh?”

“Banyak Permainan.” Jawabnya, sambil tertawa melihat acara program kuis di salah satu televisi swasta.

Saya tertawa, kemudian berdehem sebentar meminta jawaban lain.

“Baper ta? Bawa Perasaan.”

Saya tertunduk diam. Menahan tawa. Perasaan adik keponakan saya baru kelas 5 SD. Korban sinetron dan acara musik gak jelas ini pasti. Haha.

 ***


LAMONGAN DAN HAL-HAL YANG MEMBUAT BAPER

Baper barangkali adalah istilah yang lagi kekinian. Barangkali. Kemarin hari saya sedang berkendara dengan motor butut saya di kota yang sangat bisa menenangkan pikiran ini (saya serius). Ketika sedang di luar kota kabupaten lain, dan saya sedang pulang ke Lamongan. Sesampainya di Lamongan, tetiba ada perasaan adem yang menjalar keseluruh tubuh. Dan pikiran tentunya menjadi begitu tersegarkan, hilang sudah stress dan sumpek karena beban kerja, tekanan dari atasan, beban tugas kuliah, beban banyak sks, dosen killer, dan beban moral karena terlalu lama melajang, maaf saya ngelantur.

Pada hal-hal yang menyenangkan tersebut tentang kota kelahiran saya, Lamongan. Saya berpikir kadang-kadang ada hal-hal atau suatu tempat dan keadaan yang membikin baper. Dan benar, ditempat dan keadaan seperti inilah saya terkadang merasa baper. Haha. *peluk saya dik, peluk*


Alun-alun Kota
Sebagai kota kecil, alun-alun Lamongan menjadi semacam pusat segala aktifitas kekinian. Tumpah ruah jadi satu. Tempat berkumpul semua kalangan dan golongan, entah kiri atau kanan, entah NU atau Muhammadiyah, ataupun entah golongan orang-orang yang membolehkan dan tidak membolehkan -mengucapkan selamat natal. Haha. Alun-alun yang sekarang tampak lebih cantik dengan taman-taman yang diperbaiki, dibuatnya tempat olahraga dan aktifitas kekinian warga muda Lamongan, sehingga berapa tahun terakhir ini karena jarang di Lamongan saya telat tahu aktifitas mereka di minggu pagi, atau istilah mereka Mince –Minggu Ceria. Ramai sekali ternyata. Haha.

Sebagai bocah yang tumbuh di Lamongan, alun-alun kota telah menjadi saksi saya tumbuh mulai dari jaman sekolah sampai selepas sekolah. Mulai dari upacara bendera 17 Agustus, olahraga bersama, melihat konser dangdut, bermain bola di malam hari selepas sholat tarawih, melihat pameran pendidikan, masuk Bazar Ekspo nyerobot tanpa membeli tiket masuk, hingga berjualan es dengan gerobak merah yang menarik mata. Haha.

Semuanya pernah, semua, kecuali pacaran di akhir pekan sepeti remaja-remaja sekarang. Eh.

Plaza Lamongan
Barangkali Plaza Lamongan adalah satu-satunya plaza modern yang ada di Lamongan, yang dulu digadang-gadang akan menjadi suatu harapan ekonomi baru setelah pasar kliwon Kembangbahu. Loh? Haha. Yang kemudian sekarang menghilang dan mati, entah. Plaza yang konon dibangun dengan dana APBD sebesar 63 Milyar ini tampak semakin menyedihkan, karena sesekali kemarin digunakan sebagai ajang pameran batu akik. Haha. Dulu, sebelum di bangun Plaza Lamongan. Disanalah ada pasar yang menjadi salah satu pusat ekonomi dan keramaian.

Sementara sekarang, Plaza Lamongan yang mati suri dan telah menjadi pusat kesunyian diantara gemerlap warung kopi dan KFC sebagai tempat nongki-nongki tipis para pelajar dan mahasiswa alay yang baru kenal pacaran. Uhuk.

Saya ragu Plaza Lamongan mati suri begini, bukan karena masyarakat Lamongan menolak modernitas, ini hanya soal pengelolahannya saja. Bodo. Kurang survei, kurang piknik.

Jalan Veteran
Jika boleh saya sebut, inilah jalan dimana pusat pendidikan dibentangkan dan jalan dimana keriuhan arek-arek Lamongan yang haus akan ilmu. Mulai dari ujung utara sampai ujung selatan, disanalah berjajar sekolah-sekolah di Lamongan kota. Sehingga setiap pagi, veteran adalah jalan dengan kesibukan yang menggairahkan. Disana juga terdapat banyak sekolah-sekolah favorit di Lamongan (tanpa mengesampingkan sekolah lainnya di luar jalan veteran loh, haha). Apalagi sekarang dengan berkembangnya kampus UNISLA yang subhanallah sebagai kampus dengan mahasiswa terbanyak di Lamongan. Semoga tidak hanya kuantitas, kemudian kualitas juga semakin baik.

Haha. Entahlah, saya suka sekali menikmati jalan veteran dengan segala iklim pendidikannya. Sebagai alumni jalan veteran, saya juga berharap dengan pendidikan Lamongan bisa menjadi lebih baik.

Warung Kopi
Beberapa tahun terakhir warung kopi di Lamongan sudah menjadi semacam jamur di musim panu hujan, mudah sekali menyebar. Sepanjang jalan disetiap sudut kota anda akan menemuinya dengan mudah. Dengan fasilitas yang tidak boleh kelewatan “Free Wifi”, meskipun akhir-akhir ini kualitas internet jarang diperhatikan sih. Haha.

Dengan semakin banyaknya pemuda yang nongkrong di warung kopi yang kebanyakan adalah pelajar, mahasiswa dan beberapa pekerja muda, saya percaya ekonomi Lamongan sedang membaik. Haha. Entahlah. Karena jika dulu kondisi ekonomi Lamongan hanya bisa ditebak dari keramaian pasar, jika pasar sedang ramai berarti panen di desa cukup baik dan itu berarti kondisi ekonomi sedang baik. Namun, barangkali sekarang tingkat keramaian warung kopi bisa di jadikan salah satu variabel penting. Haha.

Saya percaya, dengan banyaknya pemuda yang nongkrong di warung kopi tersebut meskipun tidak membuat mereka lebih produktif tapi setidaknya itu membuat mereka lebih peka dalam hubungan sosial, dalam merawat pikiran agar tetap segar. Karena dalam setiap secangkir kopi, tersaji obrolan hangat yang menguatkan, meskipun kadang juga lamunan yang menyenangkan.

Saya sedang memikirkan, warung kopi yang menyenangkan sekaligus bisa membuat waktu menjadi produktif. Apa harus saya yang memulai. Haha.

Perempuan
Masih ada yang ragu, bahwa perempuan Lamongan bisa membuat anda baper? Berarti anda belum pernah jatuh hati dengan perempuan Lamongan. Haha. Dan kalau anda belum pernah jatuh hati dengan perempuan Lamongan, berarti anda termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi. Haha.


”Atau, adik mau jatuh hati pada lelaki Lamongan seperti saya?”


Lamongan dan Hal-hal yang Membuat Baper

Read More

Saturday, November 28, 2015




Entahlah. Saya merasa bingung mau menulis apa. Jika saya sedang duduk bertiga dengan dua sahabat saya, sebut saja Alfan dan Tono. Pasti ujung-ujungnya masalah perempuan sudah menjadi bahasan kami bertiga. Haha. Dua pria tanggung menyedihkan itu mahasiswa semester akhir yang menurut saya sama saja –galau urusan cinta.

Buktinya, mana ada seorang -jomblo-menjaga-diri- akut semacam Alfan dengan percaya diri menyembunyikan perasaan cinta dengan begitu bahagianya, perlu diulang : dengan begitu bahagia. Padahal kan, cinta diam-diam itu akan menghadapi penolakan atau penerimaan secara diam-diam pula. Lah, apa enak yang kayak begitu? Kan lebih baik tegaskan saja : Ungkapkan atau Lupakan! Haha. Sementara akhi Tono kurang galau apa coba, mahasiswa yang topik skripsi saja belum punya tapi sudah sibuk mengikuti pelatihan pra-nikah, belajar buku-buku pernikahan. Seperti itu anda anggap bukan galau, haha. Itu sudah benar-benar galau urusan cinta, hanya saja penyalurannya agak positif : belajar dulu –eksekusinya belakangan.

Sayangnya saya lagi sendirian di kamar, tidak sedang bersama mereka. Sehingga saya tidak akan membahas urusan cinta dan perempuan. saya akan membahas hal yang lebih urgen keren, urusan : Pekerjaan, misalnya. Haha. Tapi saya tidak sedang ikut-ikutan ramai memperbincangkan perdebatan tentang kaum buruh yang meminta kenaikan gaji dan kelas menengah yang nyinyir menyindir atau sebagian lain nyolot mendukung. Pro dan kontra diantara mereka, mempunyai sudut pandang pembelaan tersendiri yang bagi saya sama-sama benarnya. Misalnya, kelas menengah yang nyinyir menyindir kaum buruh dengan argumen buruh kok pakai gadged mahal, motor ninja, liburan ke Bali, mbok ya sadar, hidup secukupnya saja. Kalau mau gaji naik ya tingkatkan produktivitasnya dong. Adapula yang nyolot mendukung bahwa tuntutan macam apa yang tidak realistis, upah buruh di Indonesia saja masih tergolong rendah di Asia Tenggara. Sementara produktivitas macam apa yang ributkan, lah kalian tidak merasakan sendiri secara langsung bagaimana rasanya berada di bagian produksi, berdiri berjam-jam, menghirup zat kimia (berbahaya) setiap hari, sudah gitu ditambah mau tidak mau ya kebanyakan meninggalkan waktu ibadah. Lah, mesin harus jalan terus jeh.

Haha, sudahlah. Riuh dan perdebatan semacam itu memang perlu supaya terus terjadi perbaikan dan keadilan dari semua pihak, baik kaum buruh,  maupun pengusaha. Namun, sejatinya janganlah lupa untuk bahagia bersyukur, demi apa saja yang ada di depan mata. Setidaknya sudah ada informasi diumumkan bahwa UMK tahun depan (2016) naik. Ah, habis itu juga banyak PHK lagi, haha. Udah begitu.

Sebagai freshgraduate, dan pekerja (kontrak) baru. Saya merasa memasuki dunia baru, yang kadangkala seringkali menyenangkan. Saya pernah diingatkan –bahkan terkadang sampai sekarang, bahwasanya yang perlu disiapkan pertama kali dalam bekerja adalah mental. Mental adalah hal pertama yang harus disiapkan, sementara saya sendiri kadang berpikir mental yang seperti apa. Kesiapan untuk bekerja –saya siap. Atau barangkali mental untuk dimarah-marahin dan disuruh-suruh, haha. Itu saya. Setidaknya banyak sekali mental yang harus disiapkan, mental bukan hanya sesederhana tersebut. Saya sendiri juga sedang belajar memperbaiki mental.

Sebagai contoh kecil. Barangkali mental kerja yang selalu merindukan akhir pekan atau pengen sesegera mungkin jam 5 sore, adalah bukan mental yang baik. Haha. Dan barangkali bekerja sebaik-baiknya tanpa memperdulikan gaji anda sekarang adalah mental yang baik, karena pada akhirnya gaji akan mengikuti kinerja, dan kalaupun tidak –ya tentu saja Tuhan yang melebihkan. “Bos, marahin saya jika kerja saya tidak baik. Tapi pliss jika kerja saya baik, ndak usah dipuji, naikin saja gaji, udah.”

“Masalahnya, kamu selalu saya marahin. Bib!” [SKIP]

Barangkali perlu diketahui, bahwa yang lebih penting adalah mental untuk melangkah maju, sepertinya begitu. Belajar banyak dari hal-hal baru yang sebelumnya sedikit atau bahkan belum pernah diketahui sama sekali.

Dengan melangkah maju kita sadar arti penting dari move on. Iya, sebut saja mental move on. Haha. Seperti halnya galaunya cinta oleh Alfan dan Tono, mereka mampu move on dengan cara, kemampuan dan pribadinya masing-masing. Bagaimana kegalauan Alfan soal cinta mampu dia sembunyikan yang kemudian bisa berwujud sikap move on, yang mana dia begitu percaya diri oleh cinta diam-diam, bahwa perasaan itu belum saatnya diungkapkan, menunggu sampai waktu yang tepat dalam kebersiapan yang baik adalah sikap laki-laki. Begitulah cara dia move on. Kepercayaan diri seorang Alfan ini bisa dilihat dari Poto Profil Facebooknya dimana sudah beberapa minggu dia menggunakan gambar dengan sebuah kalimat, “Kalau Tuhan menjodohkan kita, pacarmu bisa apa?”. Lihatlah kalimat itu, bisa jadi cinta diam-diam Alfan itu ditujukan kepada seorang yang sudah punya pacar –sekarang. Bisa saja. Itu sebuah kode. Alfan adalah seorang pengkode ideal. Haha. Dengan sikap move on yang seperti itu, saya yakin Alfan pada suatu saat nanti akan mendapatkan salah satu dari dua hal ini : Pendamping hidup atau Pelajaran hidup.

Sementara Tono, bagaimana dia move on dari kegalauan cinta dengan belajar, baginya tidak ada cara untuk menunda perasaan cinta yang datang. Cara satu-satunya adalah mempersiapkan, bukan tergesa memulai apalagi sengaja menunda. Bukan. Maka tidak heran jika Tono ikut pelatihan pra-nikah, membaca buku-buku pernikahan. Sungguh mulia galau sekali hatinya. Kalaupun dia tertarik dengan perempuan akhwat –halah sama saja, haha. Tono tidak menampakkannya, dia diam dan memasrahkannya pada Tuhan. Bukan main kode-kodean seperti Alfan. Haha.

Sementara saya yang sudah move on dalam arti yang sebenarnya, saya sadar lelaki yang terlalu dalam menyesali putus cinta adalah lelaki yang bodoh. Lelaki harus segera bangkit, kalau tidak ingin kalah dalam persaingan baru diluar sana. Haha.


“Dik, saya sudah move on, masa lalu saya sudah selesai. Boleh, saya memulai masa depan bersama adik?”







@Mojokerto, Hujan Pertama November 2015.

Kerja itu Move On

Read More

Thursday, October 01, 2015




SAYA bahagia ketika melihat begitu banyak perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Namun, kebahagian saya serasa runtuh begitu saja, seperti ketika pesan ke mantan gebetan, bribikan, atau bakal calon pacar yang hanya di read doang tanpa ada balasan. Lah, gimana gak hilang kebahagiaan. Ternyata jumlah pelamar jauh lebih banyak dibandingkan dengan lowongan pekerjaan yang ada. Fiuh!

Saya harus berdesak-desakan dalam ruangan yang panas (Maaf, saya biasa kuliah-belajar-tidur-makan-ngopi-berak di ruang ber-AC). Rela mengantri panjang, hanya untuk memberikan lamaran kerja beserta berkas-berkas pendukungnya. Gak sempet ngobrol, atau setidaknya bertanya sedikit tentang perusahaan yang akan saya lamar –tidak sempat! Lah, yang mengantri banyak jeh –lagi pula mereka (satu dua orang penjaga stan perusahaan) juga sibuk mengurusi berkas para pelamar lainnya. Sampai disini saya merasa ada yang terbuang sia-sia. Pertama saya membayar sejumlah uang untuk masuk dalam gedung pameran jobfair, kedua saya harus print banyak lamaran + berkas pendukungnya, ketiga saya haus ikut berdesak-desakan mengantri. Istilahnya, saya menjadi boros : uang, tenaga dan waktu. Satu-satunya keborosan yang saya syukuri adalah saya turut memberikan rejeki ke para penjual minum asongan di luar gedung. Haha, maklum saya sempet rasanya jadi penjual minum asongan begitu.

Maksud saya begini, jika datang ke jobfair hanya untuk memberikan berkas lamaran pekerjaan. Sekali lagi, jika datang ke jobfair hanya untuk memberikan berkas lamaran pekerjaan. Kenapa tidak dilakukan melalui email atau surel saja. Saya bisa ke WARKOP selama satu setengah jam, dengan uang 5.000 rupiah sudah bisa mengirim banyak lamaran + ngepoin foto mantan, ditemani secangkir kopi dan 2 pisang goreng. Hitungannya begini, secangkir kopi dan 2 pisang goreng rata-rata habis selama satu setengah jam. Haha. Dari sini saya bisa menghemat uang, waktu dan tenaga. Atau jika perusahaan memang menginginkan berkas lamaran para pelamar dalam bentuk hardcover, saya bisa mengirimkannya langsung ke alamat perusahaan –lewat POS atau JNE. Dari sini setidaknya saya bisa menghemat waktu dan tenaga.

Atau sekarang jika dibalik begini, dari pihak perusahaan apakah juga tidak melakukan kesia-siaan, maksud saya pemborosan. Haha, entahlah, tahu apa saya tentang proses seleksi yang dilakukan oleh perusahaan, kerja di perusahaan saja belon. Saya mah apa atuh, cuma jobseeker yang dapat panggilan interview saja sudah sebahagia diajak balikan mantan.

Tapi toh, jika perusahaan itu terus menumpuk berkas lamaran pekerjaan para pelamar dari satu jobfair ke jobfair lainnya, bukankah juga termasuk pemborosan –absurd sekali. Saya tidak tahu bagaimana HRD sebuah perusahaan menyeleksi puluhan ratusan berkas lamaran pekerjaan tersebut. Tapi ketika saya sadar bahwa para HRD itu juga manusia seperti saya dan kita semua. Maka saya kira cara menyeleksi mereka juga tidak jauh berbeda sesama manusia biasa lainnya. Pertama-tama, mungkin saya bisa lihat berkas yang menarik, mungkin tampan atau cantik, kampus atau sekolah mana, IPK dan nilai-nilainya bagaimana, setelah itu baru : kira-kira mana yang memenuhi kriteria atau cocok untuk posisi yang dicari. Dan, namanya juga kira-kira, seperti kira-kira lainnya maka akan ada sedikit yang tepat, banyak pula yang meleset. Itu hanya seleksi administrasi, yang kemungkinan besar bisa saja salah menilai. Setelahnya, seleksi lainnya semisal tes tulis, psikotest, dan interview, memang biasanya benar-benar bagaimana kemampuan dan pembawaan diri si pelamar –apakah cocok dengan perusahaan.

Saya kira. Idealnya, jobfair tidak hanya tempat menaruh berkas lamaran pekerjaan. Alangkah indahnya jika jobfair itu semacam seminar atau setidaknya presentasi yang diberikan oleh perusahaan untuk mengenalkan dan ‘menjual’ perusahaannya kepada para pelamar. Tentang sejarah, visi dan misi perusahaan, tentang posisi yang ditawarkan, dan jenjang karir yang disediakan, lebih penting lagi tentang pekerjaan yang akan dilakukan, yang susah-susahnya juga harus diceritakan dan kalau bisa hal-hal sensitif semacam gaji juga diberitahukan. Haha. Sehingga dari sini, pelamar benar-benar tahu tentang perusahaan atau posisi yang ditawarkan dan nanti sudah siap bertanggung jawab terhadap pilihannya. Sampai disini, pelamar akan selektif dan benar-benar memilih sesuai kemampuan dan passionnya, dan perusahaan setidaknya terbantu dalam melakukan seleksi –mereka akan benar-benar mendapatkan calon pegawai yang sudah mantap dengan pilihannya dan siap dengan segala resiko dan beban pekerjaan. Ini tidak hanya membantu proses seleksi, namun juga keberlangsungan di masa depan calon pegawai, mengingat banyaknya kasus sebentar-sebentar resign terutama dari para freshgraduate. Haha.

Jika hanya menaruh dan mengirim lamaran pekerjaan, para pelamar akan mengirim sebanyak-banyaknya dan bahkan sebisanya mereka akan menerabas persyaratan administratif yang diberikan demi bisa mengirim dan menaruh lamaran pekerjaan sebanyak-banyaknya. Karena hukumnya adalah semakin banyak menaruh dan mengirim, maka setidaknya peluang terpanggil akan lebih besar.

Entah, bagaimana teknisnya. Mungkin selama jobfair, 2 atau 3 hari itu selain ada stan dari para perusahaan juga terdapat jadwal persentasi dari para perusahaan yang tersusun rapi. Dan disana, akan terjadi diskusi dan tanya jawab yang akan memberikan gambaran dan pemahaman baik bagi para pelamar –para pencari kerja. Karena jika jobfair hanya untuk menaruh lamaran pekerjaan, ngapain harus antri, berdesak-desakan dan membayar sejumlah uang masuk. Saya –para pelamar, merasa rugi. Sungguh saya tidak sedang memanjakan diri, ini hanya masalah efisien dan efektivitas saja. Entah, perusahaan mungkin juga rugi atau barangkali juga untung jika ini bisa menjadi bisnis yang menggiurkan dengan para penyelenggara event. Haha. Seorang teman yang lebih senior mengatakan, “Saya sudah malas dengan jobfair, banyak gak kepanggilnya. Haha.”

Sudah dulu, sampai disini saja. Saya mau pamit, sudah rapi begini, saya mau pergi ke jobfair dong. APA? Biarlah, kamu mau ngomong apa. Haha. Jika sampai saat ini, pergi ke jobfair merupakan salah satu bentuk dari ikhtiar kenapa begitu sok idealis. Huh.


“Dik! Mas mau nyari kerja dulu, baru setelah itu nyari kamu. Haha. Oiya, jangan lupa bahagia.”





Jobfair dan Segala Hal Absurd

Read More

Saturday, August 29, 2015



Keterangan : Foto saya ambil curi secara diam-diam, semoga tidak melanggar UU ITE. Haha



Geli(sah) itu memang terkadang geli menyebalkan, sementara (eufo)ria bagaimanapun bentuknya tetaplah ceria penuh kegembiraan. Sementara bagaimana jika keduanya digabungkan dalam satu perasaan, ah : tanyakan saja pada para calon lulusan sarjana –termasuk diploma. Setelah berjuang terpaksa harus berkutat dengan tugas-tugas kuliah setiap hari selama beberapa tahun yang melelahkan, halah! Jujur saja beberapa tahun itu cuma bersenang-senang dengan kehidupan kampus, organisasi kepoin adik angkatan, misalnya. Eh. Haha. Tentu saja para lulusan baru itu begitu gembira, bahagia, sejahtera selama-lamanya. Lulus jeh, kemudian wisuda. Maka nikmat Tuhan apalagi yang anda dustakan, hai para wisudawan? Sehingga wajar saja jika euforia penuh kemenangan ada pada diri anda –para wisudawan. Tapi, tunggu dulu, kenapa ada sedikit wajah masam yang saya anda sembunyikan. Seperti gelisah, bagaimana gitu. Haha. Baiklah saya mengerti, lulus bukanlah akhir dari segalanya. Anda (dan saya) tahu dibelakang kata lulus, ada pertanyaan besar yang mengintai :

KEMANA? Iyah, betul. Lalu kemana setelah lulus? Melanjutkan pendidikan, kiranya dengan kemampuan  pas-pasan seperti saya anda dan biaya bisa dikatakan cukup saja tidak, itu akan sulit. Menikah, sebagai pria yang matang secara seksualitas, itulah harapan paling agung yang disebut-sebut setiap selesai salat. Haha. Namun, ketahuilah wahai pemuda anda (dan saya) setidaknya harus lebih dulu mampu berdiri sendiri, mapan secara finansial. Ehem. Sehingga, pilihan terakhir adalah karena saya dan anda lulus di saat negara ini sedang dipimpin oleh presiden yang dengan getolnya menyebarkan tagline : KERJA! Maka kerja menjadi pilihan yang jauh paling tinggi prosentasinya.

Kerja, kerja, kerja! Kemudian dengan syedih saya setidaknya harus sedikit setuju dengan seorang kawan, dengan sedikit bersenda gurau, dia nyeletuk.”Presidenmu ikuloh, kerjo, kerjo, kerjo ae! Masalahe kerjo nandi, cak?

Yoiki. Batinku dalam hati, kritis betul ini. Haha. Lihat saja, angka pengangguran terbuka menurut data terbaru BPS sebanyak 7,45 juta orang. Dan ada data yang lebih spesifik menyebutkan sekitar 400 ribu lulusan sarjana menganggur. Bayangkan? Maka? MAKA, jangan salahkan angka-angka tersebut, periksalah diri anda ngapain saja ketika kuliah? Haha. Hastag #Nasihatuntukdirisendiri #Tamparankeras

Mencari kerja yang sesuai itu gampang-gampang susah. Begitu nasehat para senior yang sudah bekerja. Dan nasehat keluhan senior yang belum bekerja ya pasti, mencari kerja itu sulit. Tapi, percayalah sesulit-sulitnya mencari kerja akan lebih sulit jika anda tidak bekerja. Trust me! Haha. Sebenarnya jika mau lebih kreatif, menciptakan lapangan pekerjaan tidaklah terlalu sulit jika anda punya modal, atau jika anda berani memulai saja, atau jika anda sedikit kreatif saja, dan atau-atau lainnya yang sampai sekarang tidak saya miliki. Eh. Haha. Jadi gini. Dengan adanya isu tentang bonus demografi, industri kreatif kemudian muncul –dianggap sebagai salah satu alternatif terbaik. Maka, ciptakan lapangan pekerjaan dalam ranah industri kreatif. Menurut data BPS industri kreatif selama ini mampu menyerap 10,6% dari total tenaga kerja yang dapat diserap perekonomian. Dan diperkirakan ekonomi kreatif setiap tahunnya dapat menyerap 10-11% tenaga kerja. Bayangkan, betapa besar anda turut berjasa? Haha. Tetapi jika anda sudah terlalu kreatif, sehingga merasa bosan dengan industri kreatif yang itu-itu saja, saya punya referensi industri kreatif yang baru. Iyah.

Industri kreatif : tipu-tipu. Dan begini konsepnya, di penghujung september besok, akan ada banyak –ribuan lulusan sarjana (dan diploma) dari berbagai universitas dan institut. Kemudian akan banyak sekali lowongan-lowongan pekerjaan yang dibuka. Jobfair menjamur, lowongan kerja (loker) di koran tumpah-tumpah, info loker di internet nyampah dan nyepam sampai bulu ketek. Lalu, muncul lah anda (bersama tim) disana, buatlah perusahaan palsu yang seolah-olah sedang mencari karyawan, pandai-pandailah menduplikat perusahaan besar mulai dari logo, email perusahaan, hingga tanda tangan HRD atau pimpinan perusahaan. Kemudian jika sudah banyak menerima Lamaran+CV dari para calon karyawan perusahaan palsu anda, beri tahu mereka bahwa mereka telah lulus tes administratif dan undang mereka untuk menjalani tahapan tes berikutnya. Undang mereka ke Jakarta (kantor pusat) dan bilang bahwa anda telah bekerja sama dengan agen/travel tertentu –yang itu juga anda sendiri, bersama tim. Lalu tunggu para peserta transfer uang ke agen/travel palsu anda, demi undangan (yang juga palsu) anda ke Jakarta. Beres. Dapatlah uang. Jangan lupa beri tahu : biaya akomodasi akan diganti perusahaan (palsu anda) setelah peserta sampai di Jakarta.

Bagaimana, anda tertarik bergabung dengan industri kreatif tipu-tipu semacam itu? saya sih, GAK! Saya mah cukup kena tipu saja. Tapi tolong, sekali itu saja, Tuhan!



Lulus, Gelisah dan Euforia

Read More

Tuesday, August 25, 2015




ADA banyak cara untuk menyelesaikan masalah, dan berdamai adalah satu-satunya cara yang menyenangkan, meskipun terkadang tampak tidak adil menyebalkan. Berdamai adalah cara agar saya dan anda bisa untuk sepenuhnya ikhlas. Ya, tentu saja berarti berdamai adalah langkah awal untuk mengikhlaskan. Suatu hari, kawan saya, Savic –entah mengapa wajahnya selalu menampakkan keprihatinan, saya harap bukan karena itu dia betah menjomblo. Haha. Savic punya cara sendiri untuk berdamai, ketika sedikit ada ketegangan dengan seorang teman. Savic mengajaknya menuju warung kopi kemudian mentraktirnya secangkir kopi, obrolan sedikit terjadi hingga  semakin lama obrolan semakin hangat kemudian ketegangan berakhir, mereka berdamai.

Lain halnya Savic, kawan saya lainnya Darto, dengan tingkahnya yang ganjil. Bukankah sudah saya bilang, waras itu gila yang terkontrol. Dan masalah utamanya Si Darto ini sulit sekali mengontrol kegilaan, sehingga tingkahnya menjadi sedemikian rupa. Terkadang saya syedih melihatnya. Suatu ketika dia mengajak saya menuju warung kopi, disana dia bercerita dengan sedikit agak marah tentang kejadian-kejadian dan masalah di tempat kerjanya, pada cangkir pertama dia masih menggerutu kesal sekali, pada cangkir kedua dia agak tenang dan tersenyum, lalu pada cangkir ketiga dia sudah berdamai dengan kondisi di tempat kerjanya. Tawa dan canda lepasnya terlihat lagi, meskipun terkadang sedikit ganjil.

Sementara Salman, lelaki yang mengidam-idamkan brewok ini adalah musuh bebuyut saya dalam bermain bola Playstation dan PES. Tak pernah ada yang mau kalah diantara kami, sehingga jika sudah bermain, kadang kami lupa waktu –dan umur. Dalam bermain, psywar selalu kami lancarkan sehingga kekalahan akan semakin menyakitkan. Pada hari-hari tertentu saya kalah, dan pada hari-hari lainnya dia sering kalah. Karena saking seringnya bermain, saya kemudian mengerti tabiat dari Salman. Ketika pertandingan menjadi begitu seru dan menegangkan dia akan berkali-kali menyulat rokok, pada kepulan-kepulan asap tersebut dia mencoba meredakan ketegangan. Kemudian jika pertandingan berakhir, pada kekalahannya secangkir kopi didepan kami menjadi seperti air putih yang diteguk bringas untuk meredakan rasa haus kekalahan. Kulihat hari ini, secangkir kopi milik Salman tandas lebih cepat, sementara secangkir kopi saya utuh belum tersentuh. Saya menang telak. Pada secangkir kopi tersebut Salman berusaha berdamai dengan kekalahan.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengalami masa-masa sulit –tentu saja bagi diri saya sendiri. Cita-cita yang tandas, menjadi seorang legal jobless yang menyedihkan, ditambah penyakit kebodohan yang serasa menghancurkan semuanya, saya adalah lelaki tak berpengharapan yang kehilangan arah dan tujuan. Setiap hari saya menjalani malam-malam yang panjang dengan seorang sahabat di warung-warung kopi. Dalam satu malam berpindah-pindah warung kopi menjadi biasa, bisa 2 sampai 3 warung kopi yang berbeda. Dan Setiap malam pada cangkir-cangkir kopi tersebut saya tumpahkan rasa kesal saya pada Tuhan.

Anehnya, pada cangkir-cangkir kopi tersebut serasa mendamaikan sekali. Semakin hari seolah perasaan saya membaik, saya mengalami perenungan dalam setiap cangkir-cangkir kopi tersebut. Tiba-tiba saya mulai merasa malu lagi ketika dengan sengaja meninggalkan sholat. Serasa tak ada gunanya pula kesal dengan Tuhan. Kemudian saya mulai sedikit demi sedikit berani berharap. Saya mulai berpengharapan baik pada Tuhan. Dan sepertinya, berpengharapan baik pada Tuhan adalah serendah-rendahnya level iman seseorang. Bayangkan, untuk level iman terendah saja selama itu saya tidak punya. Ah. Di warung-warung kopi tersebut saya melihat berbagai macam orang dengan latar belakang dan masalah dalam hidupnya. Dik, saya sadar hidup ini tidak selalu lurus seperti status jomblo saya. Masalah hanyalah sebagian kecil dari kehidupan yang harus dihadapi.

Karena pada akhirnya. Apapun masalah dalam hidup anda, baliklah sama Tuhan. Baliklah sama secangkir kopi anda. Dan baliklah sama mantan. Berdamailah.



Berdamai dengan Secangkir Kopi

Read More

Wednesday, August 12, 2015


pertama kali diterbitkan di situs minumkopi.com


Saya tidak tahu sejak kapan kopi dan rokok adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seolah kopi dan rokok adalah pasangan sah menurut mereka. Ada lagi, kopi dan pahit adalah dua hal yang tidak dapat diabaikan, semakin pahit kopi, semakin baik selera kopi seseorang. Kopi manis dengan tambahan gula adalah kopinya orang kemarin sore. Saya tidak membayangkan, apalagi kopi sachet dengan tambahan es batu. Haha, barangkali itu kopinya orang kemarin pagi. Pun, ada yang bilang bahwa kopi adalah teman terbaik bagi sebuah pertandingan sepakbola.
Saya bukan pegiat minum kopi, selera kopi saya sendiri buruk, seburuk selera musik saya. Bagi saya kopi itu: sendiri. Kopi itu tidak berpasangan. Kopi, bagaimana pun jenis dan cara penyajiannya, adalah kopi. Entah itu pahit, manis, dalam keadaan panas atau dingin, hanyalah selera belaka.
Dan, kopi tidak melulu tentang pertandingan sepakbola, kopi adalah teman terbaik saat membaca, menulis, mengerjakan tugas, berdiskusi, ataupun sekadar melamun, atau bahkan kopi adalah teman yang baik untuk beribadah.
Kopi yang pertama kali saya minum adalah kopi hitam bikinan emak, maksud saya sisa kopi bapak yang dibikin emak. Setiap pagi di meja selalu tersedia segelas kopi bikinan emak buat bapak, biasanya bapak selalu menyisakan sedikit dan itu yang saya minum. Atau seringkali saya yang mendahului bapak meminumnya sebelum saya berangkat sekolah.
Lambat laun ketika SMA, di antara remaja-remaja tanggung yang sok belagu itu terdapat diri saya yang sudah sesekali nongkrong di warung kopi, berkat bujukan ajakan teman-teman. Sialnya saya tak pernah bolos sekolah demi secangkir kopi, yang pada akhirnya justru dibanggakan teman-teman selepas lulus SMA dan jadi bahan cerita seru untuk para gadis. Bolos sekolah dan cangkruk di warung kopi adalah cerita seru, kalian boleh mencobanya. Setidaknya setelah lulus SMA saya semakin sering nongkrong di warung kopi. Agenda keluar rumah adalah nongkrong di warung kopi. Warung kopi sudah menjadi jujukan pertama yang tidak boleh ketinggalan.
Sejak saat itu saya sudah akrab dengan kopi. Kopi sudah menjadi sahabat yang baik selepas penatnya pekerjaan, masa-masa sulit pengangguran, menumpuknya tugas, dan penghangat hubungan yang baik dengan teman-teman lama.
Bisa dibilang, kopi sudah semacam pacar bagi kesendirian. Sehingga, bagi saya, kopi itu sendiri. Kopi itu tidak berpasangan. Tidak ada ceritanya kopi itu harus berpasangan dengan rokok. Saya memang bukan perokok, bukan karena alasan kesehatan lebih ke alasan ekonomi. Tidak ada jatah uang buat sedot-sedot asap begitu. Saya juga sudah kebal dengan nyinyiran teman,
“Ah, kamu. Ngopi kok nggak ngerokok!”
Ataupun abaian para tuan rumah, “Kamu nggak ngerokok ya Le, sebentar saya buatkan teh hangat.” Hingga kemudian hanya saya sendiri yang minum teh hangat di antara para tamu laki-laki yang sudah dihidangkan kopi hitam. Menyedihkan. Hiks.
Tidak hanya disitu. Kemudian saya juga sudah kebal dengan nyinyiran para pecinta kopi (katanya). Karena kopi hitam yang saya pesan tidak sepahit kopi teman saya. Bagaimana nggak mau pahit, teman saya ini menyedihkan sekali pesan kopi hitam tanpa gula. Itu namanya bukan pecinta kopi alih-alih menguntungkan pemilik warung karena tidak usah membeli gula. Haha.
Bagi saya kopi tidak harus hitam dan pahit. Ketika cuaca panas, saya bisa pesan kopi sachetan dengan gelas jumbo penuh es batu. Tidak melulu kopi hitam (manis). Tapi, sesekali saya juga pesan kopi hitam tanpa gula barangkali ketika cuaca hati sedang sedih. Sehingga kemudian saya bisa bersyukur, bahwa hidup ini sesekali memang pahit dan kita harus menghadapinya.
Sampai di sini, seperti diawal, bagi saya kopi bagaimanapun jenis dan cara penyajiannya adalah tetap kopi. Bergantung bagaimana pribadi, budaya, pengalaman dan selera masing-masing orang. Dan kopi tetaplah sendiri, masing-masing orang berhak mencumbunya. Setiap orang berhak memasangkan dengan apa saja termasuk dengan kesendirian tersebut.
Ah, entahlah. Semoga saya bukan perusak arti secangkir kopi.

KOPI, SEMACAM PACAR BAGI KESENDIRIAN

Read More

Friday, July 31, 2015





Permainan dimulai saat sore menjelang, ketika sengatan matahari sudah tidak terlalu terik lagi. Saat itu bapak-bapak muda sekembali dari sawah, sedikit membersihkan diri, sholat ashar, kemudian bergegas ke lapangan desa. Ada juga yang langsung menuju lapangan desa – mengabaikan sholat ashar. Para pemuda buruh pabrik hingga kuli bangunan sudah sampai rumah, setelahnya langsung menuju lapangan desa – seolah lupa dengan segala lelah seharian bekerja. Beberapa pemuda pengangguran sudah di lapangan desa, menghitung satu per satu orang yang datang, jika dirasa sudah cukup akan dibagi serata mungkin menjadi dua regu dan permainan dimulai. Remaja desa, sepulang sekolah sudah bersiap, bahkan sudah sedikit melakukan pemanasan, umbal-umbalan alias passing adalah satu-satunya pemanasan yang mereka tahu – dan mau.

Permainan dimulai, dan selalu ada satu atau dua orang yang harus dipaksa rela menjadi keeper. Sebuah posisi bermain dalam sepakbola yang paling krusial, tetapi disini dianggap asal ada saja. Beres. Agar permainan bisa segera dimulai.

Permainan bisa dimulai dengan 7 lawan 7 atau 8 orang, satu bapak-bapak muda datang, melepas sarung dan baju, meletakkanya dipinggir lapangan dengan sendal jepit sebagai alas sehingga sarung dan baju yang mereka gunakan sholat tidak langsung terkena rumput lapangan yang kotor – dan bisa saja najis. Kemudian mereka memasuki lapangan dengan girang, celana pendek dan telanjang dada membuatnya tampak begitu percaya diri. Pemuda kuli bangunan datang satu, dua, hingga beberapa pemuda lain buruh pabrik juga datang, kemudian tiba-tiba masing-masing kubu sudah menjadi 11 orang dan bahkan lebih. Lapangan desa semakin sore tampak semakin sempit, bola semakin sulit mengalir. Pelanggaran semakin menggila. Ah tidak, tidak ada pelanggaran yang pasti kecuali itu terlalu kasar. Jika ada yang jatuh, ya tinggal bangun, tidak ada manja-manjaan minta pelanggaran. Jika tidak terima, ya bangun, lalu kejar, rebut dan serang balik. Haha. Asal tidak terlalu kasar – dengan niat mencederai, its fine. Gol demi gol menjadi semakin ramai dan sorak kegembiraan semakin menegaskan keceriaan sore di lapangan desa.

Semakin sore, permainan semakin seru, panas, kadang menegangkan, tawa kegirangan semakin membanggakan, lalu tawa kecut tampak sangat menyedihkan ketika kubunya kebobolan terlalu banyak gol. Tidak ada jeda babak pertama, karena permainan berlangsung tanpa ada babak satu dan dua. Jika menyerang ke gawang selatan dirasa terlalu sial, besoknya mereka akan memilih menyerang ke gawang utara. Begitu saja.

Hari sabtu dan minggu, biasanya akan banyak sekali jumlah orang yang bermain dalam satu lapangan. Di hari-hari tertentu terkadang hanya sejumlah 7 atau 6 saja tiap kubunya. Jika terpaksa hanya terdapat jumlah orang yang sangat sedikit, maka permainan akan tetap berlangsung dengan mengambil beberapa bagian lapangan dan menancapkan batang kayu sebagai gawang cilik tanpa keeper. Permainan juga tak kalah seru. Tetap dengan keceriaan sore di lapangan desa.

Sekarang, lapangan desa sudah tak bergairah lagi. Entah karena apa, tidak ada pemuda-pemuda desa yang berkumpul dalam permainan sore yang menggembirakan. Beberapa sedikit pemuda desa sekarang memilih patungan uang kemudian menyewa lapangan futsal di kota, mereka tetap memainkan sepakbola. Sepertinya futsal telah menjadi tren bermain sepakbola anak-anak muda jaman sekarang. Dengan sepatu-sepatu KW model terbaru mereka tampil lebih keren ketimbang pemuda desa dulu dengan kaki-kaki telanjang mereka di lapangan desa. Pemuda desa sekarang ataupun dulu – tetaplah memiliki kegembiraan dengan sepakbola, Namun barangkali sudah tidak dalam keceriaan sore lapangan desa lagi.

Sebagian lagi pemuda desa yang kurang suka bermain sepakbola, memilih mengasah skill bermain bola mereka dalam permainan playstation, pes, dan sejenisnya (saya tidak sedang membicarakan diri sendiri). Kemampuan mereka luarbiasa. Sebagian lagi pemuda desa sibut berdebat di media sosial – siapa pemain terbaik antara Cristiano Ronaldo dan Leonel Messi. Namun, satu hal, semua pemuda desa itu memiliki pengetahuan tentang sepakbola yang baik. Mereka akan tahu transfer pemain klub-klub eropa, mereka juga banyak menggelar nonton bareng (baca : nobar) di kafe-kafe kota. Mereka tak pernah ketinggalan informasi, mereka hafal pencetak gol hingga assist dalam pertandingan-pertandingan sepakbola. Berbeda dengan pemuda dulu, dalam pertandingan besar saja kadang tidak tahu atau lupa begitu saja siapa pencetak golnya. Duh, bagaimanapun mereka semua tetap bergembira dengan sepakbola.

Ah, entahlah. Jika sepakbola bagi pemuda-pemuda desa – baik sekarang atau dulu, adalah sebuah kegembiraan. Maka kegembiraan harus tetap ditegakkan, bagaimanapun bentuknya. Dalam keadaan sekarang atau seperti dulu. Ah, iya seperti dulu.

Ketika matahari mulai malu-malu tenggelam disebelah barat, ketika qiraah menjelang adzan maghrib telah berkumandang dari masjid desa, itulah extra time yang telah diberikan oleh marbot masjid. Para pemuda desa akan sepakat dengan aturan, satu gol lagi : permainan selesai. Dan gol terakhir biasanya yang paling dikenang daripada kemenangan permainan itu sendiri, kecuali skor kemenangan itu sangat telak. Hingga gol terakhir menjadi yang paling diperebutkan, pertahanan diperkuat, penyerangan lebih digencarkan lagi.

Adzan maghrib berkumandang, tidak ada gol yang terjadi. Permainan harus selesai, karena adzan maghrib adalah peluit panjang yang tidak bisa diganggu gugat. Kecuali para pemuda desa sudah kerasukan setan sehingga permainan akan terus berlanjut dan berakhir ketika bola sudah tidak bisa dilihat lagi karena gelap malam – namun ini jarang sekali terjadi.

Bapak-bapak muda segera pulang dan membersihkan diri, mereka tidak mau kena semprot istri mereka. Beberapa pemuda buruh pabrik dan kuli bangunan berjalan pulang santai, sambil merencanakan malam yang panjang di warung kopi. Remaja sekolahan terbirit-birit pulang dan tidak mau ketinggalan ngaji ba’da maghrib, lebih tepatnya tidak mau kena marah orang tua dan ustadz desa. Adapula, satu dua pemuda yang masih cangkruk dan ngobrol melepas lelah dipinggir lapangan desa kemudian baru bergegas pulang ketika modin desa telah selesai wirid dan berdoa jamaah maghrib.

Hari ini selesai. Besok sore lagi!



Peluit Panjang Adzan Maghrib

Read More

Sunday, July 19, 2015




Saya kadangkala suka menyendiri di sebuah warung kopi, meskipun sedang ramai. Saya anggap sedang menyendiri karena pada beberapa saat sampai selesai saya hanya menyendiri, berdiam diri, lalu hanya berdiskusi dengan laptop butut saya. Tanpa banyak bicara. Sambil berusaha mengakses wifi (baca: waifai) yang akhir-akhir ini lemot.

Sudah bisa dimengerti, akhir-akhir ini warkop di berbagai sudut kota Lamongan, yang menjamur beberapa tahun terakhir seperti tiram di musim penghujan. Seperti galau dimusim kawin, dimana banyak undangan pernikahan dari seorang kawan namun kita tak segera menyusul. Bahkan untuk merencanakan saja belum *calon mana calon*. Saya heran, warkop-warkop itu bersaing loh, tapi saya rasa tak ada yang benar-benar  memperbaiki kualitas, terutama di akses wifi yang seringkali masih lemot. TV Kabel yang tak rutin menyetel pertandingan besar liga-liga terbaik eropa. Pelayanan, dan kopi yang disajikan tak ada yang istimewa, hampir sama semua.

Paling-paling beberapa inovasi memakai konsep angkringan, atau ngapung diatas tambak, ada juga sedikit mirip kafe. Yah, lumayanlah! Saya cuma kurang suka dengan warkop yang buka hanya di malam hari, kemudian mempekerjakan perempuan muda sebagai pengaduk kopi. Meskipun tidak ada keterkaitannya dengan hal-hal yang tidak senonoh, tetap saja saya kurang suka. Alasan utamanya :tidak bisa dipakai tentu karena tak ada akses wifi.

Dan, kemarin hari. saya kebetulan ngopi (meskipun pesannya es susu, nyebutnya tetap ngopi) tidak sendiri, tapi bersama seorang kawan. Dan ketika dengan seorang kawan, kadang saya merasa sungkan ketika mau menyendiri dengan laptop butut saya. Lalu, terjadilah obrolan, tanpa topik yang khusus. Pembicaraan menjadi ngalur-ngidul tak jelas.

“Kenapa sih batu akik, sekarang menjadi populer?”

Saya tak menjawab. Selain karena tak tahu menahu, juga karena malas bahasnya.

“Apa kerennya coba? Mereka tak lebih baik dari para pengkoleksi mantan.” Cercah kawa saya.

“Heh? Ha ha” Lalu saya sedikit tertawa.

Dia mengepulkan asap rokoknya, saya menahan napas sejenak.

“Barangkali karena semakin banyak orang yang percaya bahwa akik membawa keberuntungan bagi tangan-tangan mereka dalam mencari rezeki.” Sahutku tiba-tiba. Entah, saya keseringan menonton film apa, hingga hal-hal yang berbau klenik itu masuk dalam pikiran bodoh saya.

“Kalau menurut saya ini hanya semacam barang musiman saja. Maklum, orang-orang kita kagetan danlatah! Sukanya ikut-ikutan saja.”

Ah, benar juga analisa kawan saya itu. Saya yakin, barangkali paling banter 2 tahun, sebelum akhirnya batu akik akan kembali ke keadaan normal lagi, dan dengan harga yang wajar lagi. Saya kira. Ini hanya semacam fenomena Louhan atau Bunga Gelombang Cinta beberapa tahun yang lalu. 

Obrolan Tentang Batu Akik

Read More

Thursday, July 09, 2015




(tulisan ini pernah di publish di areklamongan.co)





Diantara segala macam keunikan dan keragaman budaya, mitos dan kepercayaan, serta makanan khas di Lamongan. Barangkali ada beberapa makanan khas yang akan saya bahas bersamaan dengan cara merayakan asmara bagi seseorang remaja, tak terkecuali remaja jomblo. Dan, di Lamongan tentu saja saya tahu tempat dan makanan khas yang layak dijadikan sebagai cara untuk merayakan asmara.


Soto Lamongan
Bagi sebagian orang, jomblo adalah sebuah indikator ketidaklakuan. Padahal hal tersebut belum tentu salah. Namun satu hal, jomblo itu populer, sepopuler makanan khas kami, Soto Lamongan. Memang, barangkali kelezatan soto Lamongan sudah menyebar luas, seperti halnya kesendirian jomblo yang telah terpapar jelas. Bahwasanya, Soto Lamongan begitu khas dengan daging ayamnya yang lebih dulu dimasak dengan bumbu, dan tentu saja begitu khas dengan koyanya. Sementara jomblo juga begitu khas, dengan kemalangan nasib yang lebih dulu ditinggal mantan, dan tentu saja begitu khas dengan kesendiriannya. Bahkan hadirnya, varian rasa Soto Lamongan dalam mie instan juga semakin menegaskan kesendirian mereka yang populer dan merakyat.


Maka untuk menjadi populer dan merakyat, kenapa takut menjomblo.


Makan semangkok Soto Lamongan akan terasa menyenangkan. Bukankah, hanya kelezatannya yang bisa mengerti perasaan anda. Bukankah ini sangat istimewa, dan anda bisa mencurahkan semua perhatian anda pada setiap detail suapan sendok anda. Ada banyak sekali penjual Soto Lamongan di kota kami yang jauh lebih enak, daripada yang dijual diluar Lamongan. Disekitaran pusat kota ada depot besar yang cukup terkenal, ada juga warung-warung soto di pinggir Jalan.



Nasi Boran

Seperti ada sebuah kedekatan emosi antara nasi boran dengan sikap PDKT seseorang. Nasi boran atau yang kami sebut dengan sego boranan merupakan salah satu makanan khas kami yang hanya ada di Lamongan, tidak ada penjual nasi boran di luar Lamongan. Makanan yang sekilas, mungkin mirip sego sambal. Bedanya nasi boran disajikan dalam racikan bumbu lengkap, dan disajikan dengan berbagai pilihan lauk, termasuk didalamnya ikan sili yang telah menjadi keunikan sendiri dari nasi boran. Dan, ini mengajarkan bahwa dalam hal PDKT anda harus punya kecakapan lengkap, dengan beragam pilihan jurus, termasuk didalamnya perhatian dan gombalan yang telah menjadi semacam standar bawaan.


Dalam PDKT, anda bisa saja mengajak gebetan menikmati nasi boran bersama di malam hari. Diantara hiruk pikuk sepi malam di kota Lamongan, menikmatinya berdua secara lesehan di trotoar jalan depan Plaza Lamongan (Satu-satunya Plaza di Lamongan dan dibangun dengan dana APBD sebesar 63 Milyar, yang kemudian mati. Bodoh!) atau ditempat-tempat lain di beberapa sudut kota Lamongan, tentu saja dipinggiran jalan sambil lesehan akan memberikan kesan yang tak ternilai. Kesederhanaan cinta dan ketulusan apa adanya anda akan sedikit terlihat. Dan ini bagus.

Sebelum anda sadar bahwa Berkhalwat itu tidak baik.

Tahu Campur
Prihal mengungkapkan perasaan itu tidak sesederhana teori yang berkembang. Selain melawan kemungkinan ditolak, anda juga akan melawan perasaan di dalam dada yang campur aduk. Dan, satu-satunya makanan yang mewakili perasaan anda adalah tahu campur.  Sekilas, makanan ini mirip lontong tahu khas magelang atau lontong kikil. Namun dari segi rasa jelas berbeda, selain karena isian tahu campur lebih komplit, rasa kuahnya juga lebih gurih. Begitupun dengan anda yang akan mengungkapkan perasaan atau nembak gebetan, saya kira anda harus lebih kreatif, dan tentu saja dengan kata-kata yang juga lebih manis.

Anda bisa mengajaknya makan di warung-warung tenda di rest area, sekitaran jalan raya Lamongan. Disini anda akan menemukan Tahu Campur khas Lamongan yang enak, kemudian anda cukup menyiapkan mental dari segala macam rasa yang bercampur aduk dalam dada untuk mengatakannya, katakanlah sejujurnya meskipun akan pahit akhirnya.

Sebelum akhirnya anda sadar, jauh lebih istimewa mengajaknya ke pelaminan dan ditolak diterima, daripada sekedar mengajaknya pacaran dan ditolak.

Es Batil
Batil sendiri semacam roti yang terbuat dari tepung beras dan ragi. Rasanya mirip seperti apem tetapi agak asam. kemudian batil tersebut disajikan dalam mangkuk kecil dengan tambahan beragam isian mulai dari buah siwalan yang dipotong dadu, kacang hijau, dawet hijau, agar-agar yang diparut, lalu dicampur dengan gula merah aren cair, santan, serta es batu. Jadilah es batil yang menyegarkan dan menggugah selera. Menyenangkan sekali seperti perasaan seseorang yang baru saja diterima cintanya. Sajian es batil adalah gambaran bagaimana cinta anda diterima, kesegarannya mampu membuat hati anda lebih bergairah lagi. Selain menyegarkan, tentu saja mengenyangkan juga menyenangkan. Ada baiknya anda mampir di desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren ketika anda berniat jalan-jalan ke WBL, misalnya. Mampir ke sebuah warung kecil (yang tak pernah sepi pengunjung) dipinggir jalan, diantara hamparan sawah luas, dan dibawah naungan tetumbuhan bambu-bambu yang teduh. Disinilah anda bisa menikmati es batil, dan memang hanya dijual disini.

Dengan suasana pedesaan seperti itu saya yakin, anda tahu cara bergembira dalam sebuah perayaan cinta yang tak bertepuk sebelah tangan. Nikmatilah!

Sebelum anda tersadarkan bahwa pacaran itu tidak baik. Lalu, bukankah lebih baik anda bersegera menghalalkannya *eaa


***

Saya sendiri sudah terlalu sering memanjakan diri dengan makan soto Lamongan, bahkan hampir tak pernah melewatkannya. Dan juga tak bisa dihitung seberapa sering saya menikmati nasi boran, pun sesekali saya makan tahu campur yang pada akhirnya bisa bikin perasaan lega. Namun, sama sekali saya tak pernah menikmati kesegaran es batil kecuali hanya ‘hampir saja’. Ini mengecewakan!

Dari sini anda tahu, sampai pada level mana perayaan asmara saya. *eh

Makanan Khas dan Cara Merayakan Asmara di Lamongan

Read More